4 Cara Penggunaan Media Sosial Yang Bisa Merusak Hubungan

Cara penggunaan Media Sosial yang salah dan bisa merusak hubungan khususnya hubungan antar 4 Cara Penggunaan Media Sosial Yang Bisa Merusak HubunganCara penggunaan Media Sosial yang salah dan bisa merusak hubungan khususnya hubungan antara pasangan kekasih. Hal ini termasuk juga penggunaan BBM dan sejenisnya. Kita sebagai pengguna memang sangat terbantu oleh adanya media sosial dan sejenisnya. Lebih banyak hal yang bisa Kita lakukan termasuk melakukan komunikasi bersama kekasih dengan berbagai macam jenis komunikasi yang sudah diberikan sebagai bentuk layanan dari penyedia.

Namun sayangnya, banyak sekali yang justru salah dalam menggunakan dan itu menciptakan resiko hubungan menjadi rusak bahkan berakhir. Bagi kalangan ABG, hal ini sebenarnya sudah terjadi akan tetapi banyak yang tidak begitu menyadari bahwa penyebab hubungan Mereka rusak karena cara penggunaan Mereka yang tidak tepat. Untuk sekedar tahu, berikut ini cara penggunaan media sosial dan sejenisnya yang berpotensi rusaknya hubungan dengan kekasih.

1. Menggunakan sebagai sarana untuk memberikan sindiran. Ini sering sekali terjadi padahal sebelumnya sudah mengaku pada kekasih bahwa semua baik-baik saja. Akan tetapi setelahnya justru membuat sebuah ulasan, keluhan, dsb yang menjurus pada masalah sebelumnya dengan kekasih. Bisa dikatakan dengan sedikit ulasan, keluhan, dsb tersebut kemungkinan besar akan membuat pasangan tersindir. Ini tentunya bisa berdampak buruk jika pasangan terpancing kemarahannya. Bahkan jika pasangan terlalu sering mendapatkan hal ini, pasangan sama saja sering mendapatkan kesan negatif terus menerus. Ini tentunya akan banyak berdampak buruk bagi pasangan.

2. Menggunakan media sosial sebagai sarana untuk berdebat juga bisa merusak hubungan. Alasannya, berdebat secara langsung dengan lewat media sosial, itu memiliki perbedaan yang mencolok. Perdebatan melalui media sosial apalagi yang menyangkut masalah sensitif, lebih membuat masing-masing memiliki keberanian tanpa batas. Sehingga kata-kata atau kalimat yang seharusnya tidak keluar, bisa keluar saat menggunakan media sosial dan sejenisnya. Hal ini berbeda saat berdebat langsung. Saat berdebat atau mungkin bertengkar secara langsung, kata-kata yang keluar memiliki dasar kebenaran dan itu tidak terlalu jauh dari isi hati. Sedangkan melalui media sosial atau sejenisnya, masih banyak kata yang bisa di manipulasi. Keduanya sama-sama memiliki waktu untuk berpikir dan mencari pembenaran atas pendapatnya sendiri.

3. Mengumbar masalah pribadi yang kemudian pasti dilihat dan diketahui Orang lain. Memang dampaknya tidak secara langsung, tapi hal ini bisa menarik perhatian Orang lain. Dan setelahnya bisa mendatangkan pihak pengganggu, atau bisa juga akan ada Orang tidak bertanggung jawab yang berusaha memanfaatkan keadaan ini. Jika Kita berpikir sesaat, ini mungkin tidak terlalu buruk. Tapi jika Kita bisa lebih sedikit Dewasa, sebenarnya ini memberi dampak buruk berkepanjangan. Misalnya saja perjuangan Kita selama ini bisa sia-sia saja, rasa malu pada akhirnya, bahkan bisa saja penyesalan yang sudah tidak ada gunanya. Untuk yang satu ini mungkin tidak bisa dijelaskan secara lengkap, karena semua juga tergantung masalahnya.

4. Menggunakannya sebagai hal wajib dalam memberikan perhatian. Ini biasanya dilakukan dalam bentuk sapaan seperti “selamat pagi”, “sudah makan”, dsb. Kenapa hal ini bisa dikatakan bisa merusak hubungan, karena dengan begini akan menjadi suatu kebiasaan bahwa ini adalah cara terbaik dalam memberi suatu perhatian. Dan saat salah satu mengalami suatu kondisi tidak bisa melakukan itu, maka bisa menciptakan salah paham. Seperti misalnya salah satu berpikir bahwa pasangannya sudah mulai berubah, tidak perhatian lagi, dsb. Selain itu, jika sudah menjadi hal wajib dan itu jadi kebiasaan, bisa membuat keduanya lupa perhatian yang sesungguhnya seperti apa. .com bisa mengatakan seperti ini, karena dari fakta dan pengalaman, Orang yang terbiasa memberikan perhatian secara tidak langsung merasa bahwa dengan itu saja sudah cukup. Dan saat bertemu hanya bersikap pasif dan tidak punya inisiatif untuk memberikan perhatian yang sesungguhnya. Dan lagi-lagi, hal ini sering terjadi dari kalangan ABG.